Minggu, 20 Oktober 2013

ANEKDOT BY JOKO KURNIAWAN (Bahasa Indonesia)

Anekdot Peradilan
Oleh: Wawan Supriadi | 30 November 2009 | 13:10 WIB

Kalau tidak salah anekdot artinya ceritera lucu yang berisi sindiran, tapi terus terang saya tidak bermaksud untuk menyindir keadilan, kalau pembaca menilai ini sindiran yah silahkan.
Ceritera ini pernah saya dengar dari orang yang berbeda yaitu Asep Sunandar Sunarya dan dari Mang Ibing, ceritanya sebagai berikut :

Pada jaman dahulu di suatu negara (yang pasti bukan negara kita) ada seorang pencuri yang akan mencuri suatu rumah. Untuk memudahkan aksi pencuriannya si pencuri naik ke loteng karena dilihatnya pintu loteng terbuka. Tapi sialnya ternyata kayu yang dipegang pencuri tersebut tidak kuat, akhirnya si pencuri jatuh dan mati seketika.

Keluarga si pencuri tidak menerima keluarganya mati, maka dia melaporkan ke Hakim (jangan protes jaman dulu lapor langsung ke Hakim karena belum ada polisi). Dan mengadukan si pemilik rumah untuk dihukum mati, karena saudaranya mati di rumah orang tersebut, istilahnya “nyawa dibayar dengan nyawa”

Permohonan keluarga si pencuri dikabulkan, maka dipanggilah si pemilik rumah untuk digantung di alun.alun, si pemilik rumah tentunya protes dan tidak terima, “Yang Mulia Hakim kesalahan apa yang hamba perbuat sehingga hamba harus dihukum gantung ?”, dengan entengnya si Hakim menjawab “Kesalahanmu sangat berat !, karena kayu di rumahmu tidak kuat, menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya, oleh karena itu kamu harus dihukum dengan hukuman yang setimpal yaitu hukum gantung”. Sipemilik rumah membela diri, “Kalau itu permasalahannya, ya jangan menyalahkan saya, salahkan saja si tukang kayu kenapa dia memakunya tidak kokoh ?”. Si Hakim berfikir benar juga apa yang dikatakan si pemilik rumah tersebut. “Hai pengawal jemput si tukang kayu ke persidangan ini untuk dihukum gantung!” Maka pergilah pengawal menjemput tukang kayu.

Sesampainya ke hadapan hakim, si tukang kayu bertanya pada hakim, “Yang Mulia hakim, apakah kesalahan hamba sehingga hamba dipanggil ke persidangan ?”, Yang mulia hakim menjawab, “Kesalahan kamu sangat besar, karena kesalahanmu sewaktu membuat rumah orang ini, memakunya tidak kuat menebabkan seseorang kehilangan nyawanya, sehingga kamu harus dihukum gantung”. Si tukang kayu membela diri, “Kalau itu permasalahannya, ya jangan salahkan saya, salahkan saja seorang gadis yang sewaktu saya bekerja dia memakai baju warna merah yang mencolok pada siang hari, sehingga menyita perhatian saya”, Yang mulia hakim berfikir “Benar juga apa yang dikatakan si tukang kayu ini, gara-gara gadi inilah yang menyebabkan tukang kayu tidak bekerja sebagaimana mestinya”. Maka ia berkatalah sang hakim pada pengawalnya “Hai pengawal, bawa si gadis itu kemari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!”. Maka pergilah si pengawal menjemput si gadis.

Si gadis dibawa paksa oleh pengawal tersebut ke hadapan hakim, “Yang mulia hakim, apakah kesalahan hamba sehingga dibawa ke sidang pengadilan ini ?”. Sang hakim menjawab, “Kesalahanmu sangat besar, gara-gara kamu memakai baju yang berwana merah menyala pada siang hari dan bolak-balik lewat ke hadapan tukang kayu yang sedang bekerja ini, menyebabkan tukang kayu tidak bisa konesntrasi dalam bekerjanya sehingga memakunya tidak kokoh yang menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya”. Si gadi menjawab, “Kalau itu permasalahannya, jangan menyalahkan saya, yang salah tukang celup, sya meminta mencelup kain putih saya menjadi berwarna hijau tapi mengapa tukang celup itu mencelup warna merah menala ?”. Benar juga apa yang dikatakan si gads ini.”Hai pengawal bawa tukang celup kehadapanku!”, Maka pergilah pengawal menjeput tukang celup.

Seperti halnya orang yang telah dipanggil lebih dulu oleh hakim, tukang celup pun bertanya pada hakim perihal kesalahannya, si hakim memberi penjelasan tentang kesalahan tukang celup yang menyebabkan si pencuru meninggal dunia. Si tukang celup tidak secerdas tiga orang yang telah dipanggil terlebih dahulum, sehingga si tukang celup itu tidak bisa memberi alasan yang memuaskan sang hakim akhirnya diputuskan si tukang celup harus di hukum gantung. Maka berterikalah sang hakim ke algojo, “Hai algojo, gantunglah si tukang celup ini sekarang juga !”. maka digantunglah si tukang celup tersebut.

Beberapa menit kemudian si hakim bertanya ke sang Algojo,”Hai algojo, apakah hukuman sudah dilaksanakan ?”, Sang algojo menjawab, ”Belum yang mulia, sulit sekali untuk melaksanakannya “, si hakim bertanya “Mengapa sulit ? bukankah kamu sudah biasa menggantung orang ?”, sang algojo menjawab, “Sulit yang mulia, si tukang celup lebih tinggi dari tiang gantungan jadi dari tadi belum mati-mati”. Sang Hakim marah besar, “Kok kamu bego amat ? Gunakan dong akalmu, cari tukang celup yang lebih pendek!”. Maka digusurlah tukang celup yang berbadan pendek ke hadapan hakim.

Si tukang celup yang berbadan pendek bertanya pada hakim “Wahai yang mulia hakim, apakah kesalahan hamba sehingga harus dihukum gantung?’. Dengan entengnya sang hakim menjawab, “Kesalahanmu adalah pendeeeeeeeeeeeeeeeeeek !!!!”. Maka digantunglah tukang celup tersebut. Setelah selesai hukuman gantung, sang hakim bertanya ke halayak ramai yang menyaksikan hukuman gantung tersebut,”Saudara-saudara sekalian, bagaimanakah menurut padangan saudara peradilan ini sudah adil ?”. Masyarakat yang ada serempak menjawab “ Adiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiilll !!!!!!!!” :):):P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar